Di antara visi dan misi Pondok
Pesantren Darussalam yang terpenting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa/umat.
Visi dan misi ini diimplementasikan ke dalam tujuan, sistem, dan organisasi
pendidikan yang diselenggarakan di pondok pesantren ini. Melalui sejarahnya
yang panjang yang didirikan pada tahun 1929, oleh K.H. Ahmad Fadlil, kini
Pondok Pesantren Darussalam telah berkembang dan mencapai kemajuan yang amat
menggembirakan. Pondok pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki
sebuah rumah tempat tinggal kiai, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang
sangat sederhana, kini telah memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap
dan beberapa diantaranya cukup megah. Pada masa awal berdirinya,
Pesantren Darussalam hanya menyelenggarakan pendidikan “pengajian” dengan
menggunakan kitab-kitab Islam klasik, tetapi sejak tahun 1967 mulai dirintis
penyelenggaraan sistem pendidikan modern, dan sampai saat ini semua jenjang
pendidikan dari mulai Taman Kanak-kanak/TK (di Pesantren Darussalam disebut
Raudhatul Athfal/RA) hingga Perguruan Tinggi telah ada di pesantren ini.
Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Darussalam didirikan sebelum negeri ini
merdeka, tepatnya pada tahun 1929 di sebuah dusun bernama Dusun Cidewa, Desa
Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Pada sat
didirikannya, pesantren ini tentu saja amat sederhana. Sarana dan prasarana
yang dimilikinya pun amat minim, yaitu sebuah mesjid dan sebuah asrama yang
sangat sederhana.
Dengan jumlah santri yang relatif
banyak untuk ukuran waktu itu, wajar bila Pesantren ini selalu diawasi dan
menjadi pusat perhatian Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah bangsa Indonesia
merdeka, sedikit demi sedikit mengembangkan berbagai sarana dan fasilitas
pendidikan yang diperlukan oleh para santri. Di samping peningkatan fasilitas
dan sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting adalah pengembangan
sistem pendidikannya. Ketika di banyak pondok pesantren lain masih
mengkhususkan aktivitas pendidikannya pada pengajian kitab, Pesantren
Darussalam mulai merintis untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak
dasa warsa enam puluhan, Pesantren Darussalam mulai memodernisasikan sistem
pendidikannya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal. Lembaga
pendidikan formal yang pertama didirikan adalah Raudhatul Athfal (Taman
Kanak-kanak) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah
Ibtidaiyah/MI (setingkat SD) dan Madrasah Tsanawiyah/MTs (setingkat SLTP), dan
selanjutnya pada tahun 1969 berdiri Madrasah Aliyah (setingkat SLTA), yang
selanjutnya dijadikan Madrasah Aliyah Negeri atas permintaan Departemen
Agama dan selama Departemen Agama
belum menyediakan dana untuk keperluan itu, maka penyelenggaraannya diserahkan
kepada Pondok Pesantren Darussalam. Alhamdulillah sampai saat ini Madrasah
Aliyah di Pesantren Darussalam telah mengalami perkembangan yang amat
menggembirakan, terutama sejak Departemen Agama menetapkan Pesantren Darussalam
sebagai salah satu penyelenggara Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), yang
akhirnya diganti dengan nama Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Melihat potensi
santri Pondok Pesantren Darussalam dan juga keadaan masyarakat di Kabupaten
Ciamis yang cukup menggembirakan, maka pada tahun 1970 di Pondok Pesantren
Darussalam berdiri Perguruan Tinggi Islam pertama di Kabupaten Ciamis, dengan
nama Fakultas Syari’ah Darussalam Ciamis Jawa Barat, sebagai cikal bakal
berdirinya Institut Agama Islam Darussalam (IAID). Sampai saat ini, Institut
Agama Islam Darussalam (IAID) telah memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas
Syari’ah, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Dakwah; 3 Program, yaitu Program D-2
PGTK/RA, D-2 PGSD/MI, dan Program Pascasarjana (S-2) Program Studi Pendidikan
Islam. Berkembang dengan Visi yang Jelas Menyadari pentingnya visi yang jelas
dalam suatu lembaga pendidikan, maka Pesantren Darussalam menetapkan enam
visinya sebagai salah satu instrumen penting dalam penyelenggaraan sebuah
lembaga pendidikan. Enam visi Pesantren Darussalam, yaitu menjadi lembaga
pendidikan Islam yang mampu menghasilkan santri yang: